Posted under Blogging
Hari ini aku duduk di dalam angkutan perkotaan (baca : angkot) dan lama menunggu penumpang. Hampir lima menit lebih angkot tersebut ngetem, tapi hanya satu atau dua orang saja yang naik. Aku mencoba untuk mengobrol dengan supir angkot,
“Sepi ya pa…”
“Hari gini narik cuman dapet setoran dikit, orang-orang dah pada naek motor”
Memang hal tersebut terjadi, karena orang lebih memilih untuk naik kendaraan pribadi daripada harus naik angkot. Hal tersebut dikarenakan jumlah uang yang harus kita bayar untuk naik angkot dapat lebih mahal daripada harga satu liter bensin. Lebih lagi tidak semua supir angkot mau menerapkan harga yang lebih murah kepada para pelajar. Satu liter bensin dapat menempuh kurang lebih 40 km (jika anda memakai motor bebek yang irit-irit itu…). Selain itu, jika kita naik angkot maka waktu pun banyak yang kita korbakan, karena sang supir membutuhkan uang untuk membayar setoran.
Kendala itulah yang perlu kita pikirkan untuk dapat mengganti sarana transportasi masal dengan yang lebih baik. Seperti yang sedang digarap oleh pemerintah DKI Jakarta dengan monorelnya. Penerapan tarif khusus pun harus direalisasikan, agar menarik minat masyarakat untuk menggunakan sarana transportasi massal daripada menggunakan kendaraan pribadinya. Tentu saja hal itu akan mengurangi efek kemacetan yang kerap terjadi di kota-kota besar dan mengurangi konsumsi BBM negara kita.